Tepat pada 6 Februari 2025, dunia memperingati 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar yang namanya dikagumi di dunia internasional, tetapi justru dibungkam di negerinya sendiri. Lewat karya-karyanya, Pram menggugat ketidakadilan, mengangkat kemanusiaan, dan menyuarakan perlawanan terhadap penindasan. Namanya bahkan sempat masuk dalam nominasi Nobel Sastra, namun di Indonesia, ia dicap sebagai musuh negara oleh rezim Orde Baru.
Lahir di Blora pada 1925, Pram tumbuh dalam lingkungan yang sederhana. Ayahnya seorang guru, ibunya seorang pedagang nasi. Sejak kecil, ia menunjukkan kegemaran membaca dan menulis. Namun, pendidikannya terhenti ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942. Keadaan memaksanya hijrah ke Jakarta, bekerja serabutan demi menghidupi keluarganya, hingga akhirnya bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pasca-kemerdekaan.
Namun, perjalanan hidupnya berubah drastis pasca-G30S. Kedekatannya dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi yang berafiliasi dengan PKI, membuatnya ditangkap tanpa pengadilan. Selama 14 tahun, ia dibui dan diasingkan di Pulau Buru, mengalami penyiksaan dan represi brutal. Rezim Orde Baru tidak hanya mengekang kebebasannya, tetapi juga melarang peredaran karya-karyanya.
Di balik jeruji, Pram tidak berhenti melawan. Menulis menjadi senjatanya. Di tengah pengawasan ketat, lahirlah mahakarya seperti 'Bumi Manusia', Anak 'Semua Bangsa', 'Jejak Langkah', 'Rumah Kaca', serta 'Nyanyi Sunyi Seorang Bisu', karya yang mengabadikan penderitaan dan ketidakadilan yang ia saksikan. Meskipun dibungkam di Indonesia, tulisan-tulisannya mendapat pengakuan luas di dunia internasional, diterjemahkan ke berbagai bahasa, dan dipuji sebagai potret tajam sejarah bangsa.
Ironisnya, pada 1981, 'Bumi Manusia', novel yang membangkitkan kesadaran sejarah dan nasionalisme, dilarang terbit oleh Kejaksaan Agung. Saat yang sama, buku ini justru mendapat sambutan hangat di luar negeri. Ini menunjukkan betapa represifnya kekuasaan terhadap pemikiran kritis yang lahir dari rakyatnya sendiri.
Membaca Pram bukan sekadar mengenal sejarah. Lebih dari itu, kita belajar mencintai tanah air dengan cara yang lebih berani, dengan mempertanyakan, menggugat, dan melawan setiap bentuk ketidakadilan. Baginya, menulis adalah perlawanan, dan perlawanan itulah yang membuatnya abadi.